Ngopi di Kebun Kopi, Konsep Seladang Cafe yang Memikat Perhatian Rektor IAIN Takengon

Ngopi di Kebun Kopi, Konsep Seladang Cafe yang Memikat Perhatian Rektor IAIN Takengon

Tidak semua tempat ngopi hanya menyuguhkan secangkir kopi. Di Seladang Cafe, pengunjung justru diajak menikmati perjalanan rasa, alam, dan cerita. Inilah yang membuat Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon, Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL, penasaran hingga akhirnya datang langsung untuk melihat konsep yang belakangan banyak diperbincangkan tersebut.

Terletak di Jalan Raya Bireuen–Takengon, Kampung Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Seladang Cafe menawarkan pengalaman berbeda melalui konsep "Ngopi di Kebun Kopi." Bukan sekadar menikmati seduhan kopi Gayo, pengunjung diajak menyatu dengan alam, mengenal tanaman, hingga memahami proses dan filosofi di balik secangkir kopi.

Suasana inilah yang dinikmati Prof. Ridwan saat bersilaturahmi bersama pendiri sekaligus pemilik Seladang Cafe, Sadikin, pada Selasa (28/7/2026). Dalam kunjungan tersebut, Rektor didampingi Wakil Rektor I, Dekan Fakultas Syariah, Dakwah dan Ushuluddin, serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Takengon.

Bagi Prof. Ridwan, Seladang Cafe merupakan contoh bagaimana kreativitas mampu mengubah potensi alam menjadi destinasi yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai edukasi.

"Ketika seni dan spiritual dipadukan, keduanya mampu memancing semangat untuk terus maju. Dari perpaduan itu lahirlah kreativitas yang dapat menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat," ungkapnya.

Menurutnya, konsep yang dibangun Sadikin bukan hanya menjual kopi, tetapi juga menjual pengalaman. Pengunjung datang untuk menikmati suasana kebun yang asri, mengenal berbagai jenis tanaman, hingga merasakan kedekatan dengan alam yang kini mulai sulit ditemukan di banyak tempat.

"Saya berharap akan lahir Seladang-Seladang lainnya. Kita memiliki kekayaan kopi Gayo yang luar biasa dengan berbagai variannya. Tinggal bagaimana kreativitas mampu mengemasnya menjadi pengalaman yang berkesan bagi setiap pengunjung," katanya.

Keunikan Seladang Cafe memang tidak berhenti pada kopi. Di kawasan ini tumbuh beragam tanaman seperti 14 varietas kopi, tanaman jeruk, alpukat, labu, hingga tanaman produktif lainnya yang menjadi bagian dari lanskap wisata. Kehadiran tanaman-tanaman tersebut membuat pengunjung seolah sedang berjalan di sebuah kebun yang hidup, bukan sekadar berada di sebuah kafe.

Pengalaman itu semakin lengkap ketika Sadikin menyajikan minuman herbal racikan khas Seladang Cafe. Minuman tersebut dibuat dari jahe, daun kopi muda, buah kerto atau murbei, lemon, kulit kayu manis, serai, dan berbagai tanaman rempah lainnya. Minuman ini biasanya dinikmati sebelum ataupun sesudah minum kopi sebagai bagian dari pengalaman unik sekaligus upaya menjaga kesehatan tubuh.

Menurut Sadikin, arah pariwisata masa kini tidak lagi hanya berbicara tentang tempat yang indah, tetapi juga tentang pengalaman yang membekas.

"Pengunjung tidak hanya datang untuk minum kopi. Mereka kami ajak melihat berbagai varietas kopi dan tanaman lain sebagai 'what to see'. Kemudian mereka juga bisa belajar mengolah kopi dan memanfaatkan hasil alam menjadi minuman atau makanan sebagai 'what to do'. Dari situlah lahir pengalaman berwisata atau 'experience tourism'. Orang akan mengingat, merindukan, lalu kembali lagi," jelasnya.

Bagi Rektor IAIN Takengon, konsep seperti inilah yang patut terus dikembangkan di dataran tinggi Tanoh Gayo. Kekayaan alam, budaya, dan kopi tidak cukup hanya dipamerkan, tetapi perlu dikemas melalui kreativitas agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Perbincangan hangat selama menikmati kopi juga membuka peluang kolaborasi antara IAIN Takengon dan Seladang Cafe. Salah satu yang mengemuka adalah pengembangan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, penelitian, serta praktik kerja lapangan (PKL) mahasiswa, khususnya dari Program Studi Pariwisata Syariah dan program studi lainnya.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi ruang belajar yang mempertemukan dunia akademik dengan praktik lapangan, sekaligus mendorong lahirnya inovasi pariwisata berbasis potensi lokal yang berkelanjutan di Tanoh Gayo.

Read more

Empat Dosen IAIN Takengon Raih Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 untuk Studi Doktor

Empat Dosen IAIN Takengon Raih Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 untuk Studi Doktor

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon. Sebanyak empat dosen IAIN Takengon berhasil lolos sebagai penerima Beasiswa Unggulan Keagamaan (BUK) Program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Tahun 2026, program beasiswa hasil kolaborasi Kementerian Agama Republik Indonesia bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan pendidikan jenjang

By Humas IAIN Takengon