Menyusuri Lembah Linge, Menjaga Harapan dari Bibit-Bibit Durian Wakaf
Pagi itu, kendaraan yang membawa rombongan pimpinan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon perlahan meninggalkan kampus. Jalan berkelok, tanjakan, dan hamparan perbukitan menjadi teman perjalanan menuju Kecamatan Linge, wilayah yang dikenal sebagai salah satu kawasan bersejarah sekaligus memiliki bentang alam yang masih asri di Kabupaten Aceh Tengah.
Perjalanan sejauh lebih dari 30 kilometer itu bukan sekadar agenda kunjungan lapangan. Di baliknya, tersimpan sebuah harapan yang telah ditanam beberapa waktu lalu, yaitu harapan yang kini mulai bertunas bersama bibit-bibit durian wakaf yang tumbuh di pekarangan rumah warga.
Rombongan dipimpin langsung oleh Rektor IAIN Takengon, Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL, didampingi Wakil Rektor I, Ketua Senat, Dekan Fakultas Tarbiyah, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), serta sejumlah sivitas akademika IAIN Takengon. Mereka menyambangi tiga kampung penerima program wakaf bibit durian, yakni Kampung Mungkur, Pantan Nangka, dan Simpang Uning.

Di setiap persinggahan, rombongan tidak hanya melihat tanaman dari kejauhan. Mereka menyusuri halaman-halaman rumah warga, memperhatikan batang muda yang mulai meninggi, memeriksa kondisi daun, hingga berdialog langsung dengan masyarakat mengenai cara perawatan yang telah dilakukan.
Bagi Prof. Ridwan, kunjungan ini merupakan bagian penting dari memastikan bahwa program pengabdian kepada masyarakat benar-benar berjalan sesuai tujuan.

"Pemantauan ini dilakukan untuk melihat perkembangan bibit durian yang telah diberikan kepada masyarakat. Kami ingin memastikan apakah bibit tersebut sudah ditanam dan dirawat dengan baik. Harapannya tentu program ini dapat berhasil sesuai dengan yang direncanakan," ujarnya.
Program wakaf bibit durian tersebut bukan sekadar kegiatan penghijauan. Lebih jauh, ia menjadi implementasi nyata konsep ekoteologi, sebuah pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui program ini, IAIN Takengon menghadirkan beragam varietas durian unggul seperti Musang King, Bawor, Monthong, Kani, Bintan, serta beberapa jenis unggulan lainnya. Varietas-varietas tersebut dipilih bukan hanya karena kualitas buahnya, tetapi juga karena memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan apabila berhasil dibudidayakan.

Di balik batang-batang kecil yang mulai menghijau itu tersimpan cita-cita besar. Kelak, ketika pohon-pohon tersebut tumbuh dewasa dan mulai berbuah, hasilnya diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga-keluarga di Linge, sekaligus memperkuat tutupan hijau kawasan pegunungan Gayo.
Hasil pemantauan sebagian besar bibit telah ditanam di sekitar rumah warga dan memperlihatkan pertumbuhan yang baik. Meski demikian, tidak semua mampu bertahan. Beberapa bibit ditemukan mati akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung maupun rusak karena dimakan hewan ternak yang berkeliaran.
Namun kondisi tersebut tidak mengurangi optimisme. Bibit-bibit yang masih hidup terus menunjukkan perkembangan dan menjadi simbol harapan bahwa program ini akan memberikan manfaat jangka panjang.

Lebih dari sekadar menanam pohon, IAIN Takengon sedang menanam kesadaran. Bahwa menjaga alam merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai keislaman, dan merawat lingkungan adalah investasi untuk masa depan generasi berikutnya.
Di tanah Linge yang subur, bibit-bibit durian itu kini tumbuh perlahan dan harapan masyarakat ikut bertumbuh bersamanya. Suatu hari nanti, ketika ranting-ranting itu dipenuhi buah, hasilnya bukan hanya akan dinikmati oleh pemilik pohon, tetapi juga menjadi saksi bahwa kepedulian terhadap lingkungan, jika dipadukan dengan semangat pengabdian, mampu melahirkan keberkahan yang berbuah bagi banyak orang.