LPPM IAIN Takengon Bahas Ancaman Radikalisme Digital terhadap Anak
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon kembali menggelar kegiatan rutin Coffee Morning pada Rabu (14/10/2026). Kegiatan kali ini membahas ancaman radikalisme dan terorisme di ruang digital, khususnya penyebaran paham kekerasan yang menyasar anak-anak dan generasi muda.

Hadir sebagai narasumber melalui daring, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dr. Subardi, S.Ag., M.KPd. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa perkembangan terorisme pada 2026 telah memasuki fase kontemporer yang ditandai dengan pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, lanskap terorisme saat ini turut dipengaruhi oleh propaganda berbasis AI, algoritma, disinformasi, dan aktivitas di ruang siber.
“Tren terorisme ini tidak hanya berupa kekerasan yang berlatar belakang ideologi atau disebut mimetic, tetapi juga nihilistic, yakni melakukan kekerasan tanpa latar belakang ideologi dan hanya meniru tindakan kekerasan sebelumnya (copycat crime),” ungkapnya.
Lebih lanjut, Subardi menjelaskan bahwa salah satu pola pendekatan yang perlu diwaspadai adalah pemanfaatan permainan daring (game online), seperti Roblox dan permainan populer lainnya, sebagai sarana membangun interaksi dan komunikasi. Interaksi yang awalnya berlangsung melalui permainan dapat berlanjut ke komunikasi intensif dan pembentukan grup terbatas melalui aplikasi seperti WhatsApp atau Telegram. Dalam ruang tersebut, konten kekerasan maupun paham ideologi ekstrem dapat disebarkan untuk memengaruhi pola pikir dan perilaku anggota kelompok.

Menurutnya, pencegahan radikalisme digital membutuhkan langkah komprehensif yang melibatkan keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat. Keluarga perlu meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas digital anak, termasuk mendampingi penggunaan permainan daring dan media sosial serta membatasi paparan konten yang mengandung kekerasan. Sementara itu, institusi pendidikan perlu memperkuat penanaman nilai-nilai antikekerasan kepada siswa dan mahasiswa.

Ia juga menekankan pentingnya memperbanyak konten positif, menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal, serta membangun lingkungan sosial yang saling peduli dan menjaga. Menurutnya, nilai-nilai budaya lokal yang mengedepankan komunikasi santun dan penyelesaian masalah secara damai perlu terus ditanamkan kepada generasi muda sebagai bagian dari upaya pencegahan kekerasan.

Diskusi Coffee Morning tersebut dipandu oleh Ketua LPPM IAIN Takengon, Dr. Muhammad Riza, MA. Kegiatan diikuti oleh sivitas akademika IAIN Takengon, baik secara langsung maupun melalui Zoom Meeting. Melalui forum ini, LPPM IAIN Takengon mendorong penguatan wawasan dan kolaborasi sivitas akademika dalam menghadapi tantangan sosial di era digital, termasuk upaya membangun kesadaran bersama terhadap bahaya radikalisme dan kekerasan di kalangan generasi muda.