Internasionalisasi Bahasa Indonesia: IAIN Takengon Bersama Balai Bahasa Provinsi Aceh Akselerasi Program BIPA

Internasionalisasi Bahasa Indonesia: IAIN Takengon Bersama Balai Bahasa Provinsi Aceh Akselerasi Program BIPA

Dalam rangka memperkuat posisi bahasa Indonesia di kancah global, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Aceh menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengenalan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

Kegiatan akademis strategis yang ditujukan bagi kalangan dosen, guru, serta pemangku kebijakan di Kabupaten Aceh Tengah ini berlangsung pada tanggal 17 s.d. 18 Juni 2026 yang diselenggarakan secara terpusat di Ruang Aula IAIN Takengon.

Pertemuan berskala regional ini dirancang sebagai fondasi multiplikasi program internasionalisasi kebahasaan sekaligus tindak lanjut nyata atas pengakuan bahasa Indonesia di tingkat global.

Dalam pemaparannya Ketua Panitia Pelaksana, Zainun, S.Ag., M.Pd., menggarisbawahi bahwa kegiatan bimbingan teknis ini berakar dari sebuah cita-cita luhur nasional, yakni mentransformasikan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional yang diakui secara universal melalui instrumen strategis BIPA. Komitmen ini didorong oleh persebaran pemelajaran kebahasaan yang kian meluas di ranah internasional.

"Cita-cita besar kita adalah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional melalui akselerasi program BIPA. Saat ini, tercatat sedikitnya 50 negara di dunia telah mempelajari bahasa Indonesia secara intensif. Melalui program ini pula, kita secara aktif mengirimkan tenaga pengajar profesional ke berbagai negara luar guna memperluas jangkauan kebahasaan kita. Oleh karena itu, perguruan tinggi di tanah air diharapkan mampu membuka program mandiri sekaligus memberikan dukungan penuh terhadap ekosistem BIPA ini," ujar Zainun.

Lebih lanjut, Zainun memaparkan signifikansi posisi geografis dan sosiokultural wilayah dataran tinggi Gayo yang dinilai memiliki keunggulan kompetitif.

"Kabupaten Aceh Tengah, khususnya Takengon, kini telah bertransformasi menjadi objek wisata dunia yang memikat perhatian internasional. Realitas sosiogeografis ini membuka peluang emas bagi sektor pendidikan tinggi. Kampus memiliki peluang yang sangat besar untuk mengambil peran sentral, termasuk integrasi sinergis dengan lembaga daerah dan pemerintah daerah (Pemda)," tambahnya.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, S.S., M.Hum., menyatakan komitmen mutlak institusinya dalam menyebarluaskan program BIPA secara integratif di wilayah Aceh. Sinergitas kelembagaan tersebut diwujudkan secara konkret melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama IAIN Takengon. Beliau menerangkan bahwa Balai Bahasa Provinsi Aceh mengusung empat program prioritas utama, di mana salah satu pilar krusialnya adalah internasionalisasi bahasa Indonesia yang direalisasikan secara taktis melalui BIPA.

"Internasionalisasi bahasa Indonesia bukan sekadar target institusional, melainkan sebuah amanat undang-undang yang wajib kita wujudkan bersama. Kami sangat berharap adanya dukungan penuh serta fasilitasi berkelanjutan dari pihak IAIN Takengon. Harapan besar kami, IAIN Takengon dapat berdiri kokoh di garda terdepan bagi pelaksanaan program BIPA di daerah ini, sehingga di masa depan, Warga Negara Asing (WNA) dapat hadir secara langsung untuk belajar bahasa Indonesia dan mendalami kekayaan budaya lokal di kampus ini. Keberadaan program BIPA ini diproyeksikan akan membuka peluang reguler bagi masuknya mahasiswa asing di lingkungan kampus," tegas Muhammad Irsan.

Guna mendukung standardisasi mutu kebahasaan di lingkungan internal, Muhammad Irsan juga menawarkan penyelenggaraan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif yang ditujukan untuk mengukur tingkat kemahiran berbahasa bagi seluruh civitas akademika IAIN Takengon. Implementasi uji kompetensi ini nantinya akan diiringi dengan pembinaan berkelanjutan secara intensif dari Balai Bahasa Provinsi Aceh. Beliau sangat optimistis terhadap potensi lokal dataran tinggi Aceh Tengah yang dinilai sangat representatif untuk pengembangan BIPA berbasis kearifan lokal. "Aceh Tengah memiliki potensi luar biasa, baik dari sisi wisata budaya maupun seni yang berbasis pada keunikan lokal. Dengan adanya payung hukum berupa MoU ini, mudah-mudahan seluruh program dapat berjalan berkesinambungan. Peluang bahasa Indonesia untuk diakui dunia kini terbuka sangat lebar; selain telah disahkan menjadi bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO, bahasa Indonesia kini diakui sebagai bahasa resmi ke-57 di Vatikan News, dan program BIPA sendiri telah diimplementasikan di 61 negara di seluruh belahan dunia," imbuhnya.

Rektor IAIN Takengon, Prof. Dr. Ridwan Nurdin, M.CL., menyambut hangat inisiatif strategis ini dan secara resmi membuka jalannya bimbingan teknis tersebut. Dalam sambutan akademisnya, Rektor menyatakan kesiapan penuh dan komitmen institusi yang dipimpinnya terhadap implementasi Nota Kesepahaman yang telah terjalin dengan Balai Bahasa Provinsi Aceh. Beliau menggarisbawahi keunggulan demografis internal kampus sebagai modal sosial budaya yang kuat. "Para dosen di lingkungan IAIN Takengon berasal dari berbagai latar belakang daerah di Indonesia, sebuah diversitas yang sangat mendukung implementasi serta pembiasaan berbahasa Indonesia yang baik, benar, dan inklusif. Karakteristik daerah kita sebagai destinasi wisata internasional bertindak sebagai katalisator yang sangat mendukung atmosfer akademik ini. IAIN Takengon menyatakan komitmen mutlak terhadap MoU yang terjalin dengan Balai Bahasa Provinsi Aceh. Kami berkomitmen mendukung penuh hajat baik ini demi mewujudkan cita-cita bangsa," tutur Prof. Dr. Ridwan Nurdin, M.CL.

Kegiatan ini menghadirkan serangkaian materi substantif kurikulum kebahasaan. Selama dua hari pelaksanaan, para peserta dibekali materi mengenai Konsep Dasar BIPA, Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), serta Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang dipandu oleh narasumber ahli, Dr. Jamaluddin Nasution, S.S., S.Pd., M.Hum. Sementara itu, sesi Praktik Pembelajaran BIPA dan Pengembangan Program dibahas secara aplikatif bersama pakar pengajaran kebahasaan, Yusnimar M. Amin, S.Pd., M.TESOL. Integrasi antara standardisasi nasional dan optimalisasi potensi lokal ini diharapkan mampu mencetak instruktur BIPA yang andal serta adaptif terhadap tuntutan global.

Read more

Empat Dosen IAIN Takengon Raih Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 untuk Studi Doktor

Empat Dosen IAIN Takengon Raih Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 untuk Studi Doktor

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon. Sebanyak empat dosen IAIN Takengon berhasil lolos sebagai penerima Beasiswa Unggulan Keagamaan (BUK) Program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Tahun 2026, program beasiswa hasil kolaborasi Kementerian Agama Republik Indonesia bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan pendidikan jenjang

By Humas IAIN Takengon