IAIN Takengon Perkuat Ekosistem Pendidikan Pascabencana Hidrometeorologi di Dataran Tinggi Gayo

IAIN Takengon Perkuat Ekosistem Pendidikan Pascabencana Hidrometeorologi di Dataran Tinggi Gayo

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon menyelenggarakan kegiatan Penguatan Ekosistem Pendidikan Pascabencana Hidrometeorologi di Dataran Tinggi Gayo, Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang diskusi dan kolaborasi untuk mengidentifikasi persoalan serta merumuskan rekomendasi dalam memperkuat keberlangsungan pendidikan pascabencana.

Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Al Musanna, M.Ag., Dr. Insan Sarami Artanoga, Sp.KJ., dan Harmala, S.Psi. Forum ini melibatkan 60 peserta dari 20 sekolah dan madrasah tingkat SMA/MA yang terdiri dari Kepala Sekolah, perwakilan guru dan Siswa berasal dari Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.

Ketua Panitia, Delfia Herwanis, M.Pd., Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum berbagi ilmu, tetapi juga bentuk tanggung jawab bersama dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Menurutnya, bencana hidrometeorologi tidak hanya berdampak pada kondisi fisik dan infrastruktur, tetapi juga memengaruhi aspek psikologis, sosial, serta keberlangsungan layanan pendidikan bagi peserta didik.

"Pemulihan pendidikan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi membutuhkan keterlibatan dan kolaborasi semua pihak. Melalui forum ini, kita berharap dapat mengidentifikasi persoalan dan merumuskan rekomendasi untuk memperkuat ekosistem pendidikan pascabencana,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya melandasi setiap upaya dengan niat yang baik dan tanggung jawab. Ilmu serta profesi yang dimiliki diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan semata, melainkan dapat diterjemahkan menjadi kontribusi yang bermanfaat bagi sesama.

Sementara itu, Rektor IAIN Takengon, Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL, menyampaikan bahwa penguatan ekosistem pendidikan membutuhkan perhatian terhadap kondisi psikologis, lingkungan sosial, serta perkembangan teknologi yang turut memengaruhi proses pembelajaran.

Menurutnya, sekolah perlu menjadi lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung peserta didik, terutama setelah menghadapi situasi bencana. Hubungan sosial yang sehat juga perlu dibangun melalui sikap saling peduli, menghargai, dan menghindari prasangka.

Ia turut menyoroti pentingnya kesiapan dunia pendidikan dalam menghadapi perkembangan teknologi. Peserta didik perlu diarahkan agar mampu memanfaatkan teknologi secara tepat, dengan tetap memperhatikan nilai-nilai sosial dan tujuan pendidikan.

Rektor berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan dan kerja sama berkelanjutan antara IAIN Takengon, sekolah, madrasah, serta para pemangku kepentingan pendidikan di Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Al Musanna, M.Ag., yang membahas Penguatan Ekosistem Pendidikan melalui Pengembangan Kurikulum yang Adaptif dan Pembelajaran Berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di kelas, tetapi juga oleh keterhubungan antara peserta didik, keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan dunia kerja.

Perubahan sosial dan budaya, perkembangan teknologi serta kecerdasan buatan, dan beragamnya kebutuhan peserta didik menuntut sistem pendidikan yang lebih responsif. Kurikulum adaptif, menurut materi yang disampaikan, bukan berarti menyeragamkan cara belajar, melainkan memberikan ruang agar setiap peserta didik dapat berkembang sesuai potensi dan kebutuhannya.

Ia juga menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan melalui pengalaman, umpan balik, refleksi, dan perbaikan. Dengan pendekatan ini, proses pendidikan tidak berhenti pada pencapaian hasil belajar, tetapi terus dievaluasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi masyarakat.

Dalam konteks pascabencana, kurikulum dan pembelajaran yang adaptif dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pendidikan dengan tetap memperhatikan nilai kemanusiaan, kearifan lokal, serta pemanfaatan inovasi digital.

Materi berikutnya disampaikan oleh dr. Insan Sarami Artanoga, Sp.KJ., yang membahas Mengenali Kerentanan Psikologis dan Dampak Bencana terhadap Ekosistem Sekolah. Ia menguraikan bahwa bencana dapat memengaruhi kondisi emosional dan perilaku peserta didik, terutama ketika mereka kehilangan rutinitas, tempat belajar, atau rasa aman.

Dampak tersebut dapat terlihat melalui perubahan perilaku, kecemasan, kesulitan berkonsentrasi, menurunnya motivasi belajar, hingga perubahan hubungan sosial. Guru dan orang tua perlu memahami bahwa perubahan tersebut dapat berkaitan dengan pengalaman yang dialami anak setelah bencana.

Insan juga menekankan pentingnya komunikasi yang empatik, mendengarkan anak secara aktif, serta membangun lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan tidak memberikan stigma kepada peserta didik yang mengalami kesulitan. Guru dapat mengamati perubahan dan menghubungkan peserta didik dengan orang tua, konselor, atau tenaga profesional apabila diperlukan, tanpa mengambil peran untuk mendiagnosis kondisi psikologis.

Selain itu, dukungan keluarga, literasi digital, pengelolaan waktu, dan pengembangan keterampilan hidup menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam mendampingi peserta didik menghadapi tantangan pascabencana.

Pemateri ketiga, Harmala, S.Psi., Psikolog, psikolog klinis RSUD Datu Beru Aceh Tengah, menyampaikan materi tentang Mengenal Kerentanan Psikologis dan Dampak Bencana terhadap Ekosistem Sekolah. Ia menjelaskan bahwa kerentanan psikologis berkaitan dengan kesulitan seseorang dalam menghadapi tekanan emosional dan menyesuaikan diri terhadap peristiwa traumatis, kehilangan, maupun perubahan lingkungan.

Kerentanan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, antara lain kondisi individu, keluarga, lingkungan sekolah, serta keadaan sosial ekonomi. Pada peserta didik, dampaknya dapat muncul dalam aspek emosional, kognitif, perilaku, dan hubungan sosial. Sementara itu, guru dan tenaga kependidikan juga dapat mengalami tekanan karena harus menghadapi persoalan pribadi dan keluarga sekaligus menjalankan tanggung jawab pendidikan.

Ia memaparkan sejumlah langkah yang dapat dilakukan sekolah, seperti menciptakan lingkungan yang aman, memberikan pendampingan psikososial, menerapkan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis sesuai kapasitas, memulihkan rutinitas belajar, memperkuat peran keluarga, serta merujuk peserta didik kepada tenaga profesional apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Harmala juga menekankan pentingnya pemetaan kebutuhan sekolah, peningkatan kapasitas guru, kolaborasi lintas sektor, dan pemanfaatan budaya lokal serta solidaritas sosial. Langkah-langkah tersebut diperlukan agar sekolah tidak hanya kembali menjalankan pembelajaran, tetapi juga semakin siap menghadapi risiko bencana pada masa mendatang.

Melalui kegiatan ini, IAIN Takengon mendorong penguatan ekosistem pendidikan pascabencana melalui pendekatan yang menyatukan pembelajaran adaptif, perhatian terhadap kesehatan psikologis, serta kerja sama antara sekolah, keluarga, tenaga profesional, dan masyarakat.

Pemulihan pendidikan tidak cukup hanya dengan mengembalikan aktivitas belajar seperti semula. Upaya tersebut juga perlu memastikan peserta didik memperoleh rasa aman, dukungan emosional, dan kesempatan untuk terus berkembang sesuai kebutuhan mereka.

Read more

Fakultas Tarbiyah IAIN Takengon Perpanjang Pendaftaran Tarbiyah Fair 2026 hingga 6 November

Fakultas Tarbiyah IAIN Takengon Perpanjang Pendaftaran Tarbiyah Fair 2026 hingga 6 November

Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon memperpanjang masa pendaftaran Tarbiyah Fair 2026 hingga Jumat, 6 November 2026, pukul 16.00 WIB. Perpanjangan ini memberikan kesempatan lebih luas bagi mahasiswa dan siswa yang belum sempat mendaftarkan diri untuk berpartisipasi dalam berbagai kompetisi yang diselenggarakan. Tarbiyah Fair 2026 dijadwalkan berlangsung

By Humas IAIN Takengon
IAIN Takengon Raih Penghargaan Satker Terbaik Bidang Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Triwulan III 2026

IAIN Takengon Raih Penghargaan Satker Terbaik Bidang Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Triwulan III 2026

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon menerima penghargaan sebagai Satuan Kerja (Satker) Terbaik Bidang Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Periode Triwulan III Tahun 2026 dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Takengon. Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian kunjungan monitoring dan evaluasi (monev) akhir tahun yang berlangsung pada Senin, 2 November 2026, di

By Humas IAIN Takengon