IAIN Takengon Gelar Kuliah Umum Bersama Kepala Badan Bahasa, Tegaskan Peran Strategis Bahasa dan Sastra dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045

IAIN Takengon Gelar Kuliah Umum Bersama Kepala Badan Bahasa, Tegaskan Peran Strategis Bahasa dan Sastra dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Pengembangan Bahasa dan Sastra sebagai Pilar Strategis Pembangunan Nasional” dengan menghadirkan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Hafidz Muksin, pada Rabu (24/6/2026) di Aula IAIN Takengon.

Kegiatan yang diikuti oleh dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta berbagai pemangku kepentingan pendidikan ini menjadi forum akademik penting untuk memperkuat pemahaman mengenai posisi bahasa dan sastra sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia sekaligus instrumen penguatan identitas bangsa di era global.

Dalam paparannya, Hafidz Muksin menegaskan bahwa pembangunan kebahasaan dan kesastraan telah menjadi bagian strategis dalam arah pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam RPJPN 2025–2045, RPJMN 2025–2029, serta Asta Cita Presiden Republik Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga merupakan simbol negara yang memiliki peran sentral dalam pembangunan karakter bangsa, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan literasi, serta diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.

“Pembangunan kebahasaan dan kesastraan menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan manusia Indonesia unggul sekaligus memperkuat ketahanan sosial budaya bangsa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu sasaran strategis Kemendikdasmen adalah meningkatkan kualitas pembangunan kebahasaan dan kesastraan melalui berbagai program prioritas, seperti pemartabatan bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, peningkatan literasi masyarakat, pengembangan perkamusan dan peristilahan, serta penginternasionalan bahasa Indonesia.

Dalam kuliah umum tersebut, Hafidz Muksin juga memaparkan kondisi kebahasaan Indonesia yang sangat kaya dengan keberadaan 718 bahasa daerah yang tersebar di seluruh Nusantara. Namun, kekayaan tersebut menghadapi tantangan serius karena sejumlah bahasa daerah mengalami kemunduran, terancam punah, bahkan telah kehilangan penutur.

Mengutip data Badan Bahasa, sebanyak 18 bahasa daerah berada dalam kategori aman, sementara sebagian lainnya berada pada kategori rentan, mengalami kemunduran, terancam punah, kritis, hingga punah. Kondisi ini menuntut keterlibatan semua pihak dalam upaya pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.

“Bahasa daerah tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penyimpan nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan jati diri masyarakat. Karena itu, pelestariannya harus menjadi gerakan bersama,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terus melaksanakan Program Revitalisasi Bahasa Daerah yang pada tahun 2026 menargetkan 125 bahasa daerah di 38 provinsi. Program tersebut melibatkan sekolah, komunitas, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam proses pewarisan bahasa kepada generasi muda.

Selain pelestarian bahasa daerah, Hafidz Muksin juga menyoroti pentingnya penguatan literasi melalui berbagai program seperti Kamus Masuk Sekolah (KMS), pengembangan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penyusunan kamus bidang ilmu, pengembangan korpus bahasa daerah, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan bahasa dan sastra.

Pada kesempatan itu, ia turut memaparkan capaian penginternasionalan bahasa Indonesia yang semakin mendapat pengakuan dunia. Salah satu capaian penting adalah penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO serta berbagai program penerjemahan dan penjurubahasaan pada forum internasional.

Menurutnya, penginternasionalan bahasa Indonesia merupakan bagian dari diplomasi kebahasaan yang memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan global sekaligus memperluas pengaruh budaya Indonesia di dunia internasional.

Rektor IAIN Takengon dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di kampus tersebut. Ia berharap kuliah umum ini dapat memperluas wawasan sivitas akademika mengenai pentingnya bahasa dan sastra sebagai instrumen pembangunan bangsa.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memperkuat kesadaran akademik dan kultural seluruh sivitas akademika IAIN Takengon untuk terus berkontribusi dalam pengembangan bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, serta peningkatan budaya literasi di tengah masyarakat,” ujarnya.

Melalui kuliah umum ini, IAIN Takengon menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berbudaya, sekaligus berperan aktif dalam menjaga dan mengembangkan kekayaan bahasa serta sastra Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Read more

Empat Dosen IAIN Takengon Raih Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 untuk Studi Doktor

Empat Dosen IAIN Takengon Raih Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 untuk Studi Doktor

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon. Sebanyak empat dosen IAIN Takengon berhasil lolos sebagai penerima Beasiswa Unggulan Keagamaan (BUK) Program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Tahun 2026, program beasiswa hasil kolaborasi Kementerian Agama Republik Indonesia bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan pendidikan jenjang

By Humas IAIN Takengon