Dosen IAIN Takengon Berbagi Gagasan tentang Pendidikan Perempuan dan Pendidikan Inklusif pada International Community Engagement Program di Kuala Lumpur
Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon berpartisipasi sebagai pemateri dalam International Community Engagement Program yang diselenggarakan di Kampung Bharu, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 27–30 Juni 2026. Kegiatan bertema "Smart Islamic Cultural Community for Modern Malay Urban Villages: Integrating Social, Health, Education, and Digital Economy in Kampung Bharu, Kuala Lumpur" ini mempertemukan akademisi, praktisi, dan peserta dari Indonesia serta Malaysia sebagai wadah pertukaran gagasan mengenai pengembangan masyarakat berbasis nilai-nilai Islam.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Evanirosa, M.A. mempresentasikan materi berjudul "The Actualization of Acehnese Muslimah Education through the Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT)". Materi ini mengangkat peran Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam nonformal yang berkontribusi dalam pembinaan perempuan Muslimah di Aceh.
Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa pendidikan perempuan merupakan bagian penting dalam ajaran Islam. Selain melalui jalur pendidikan formal dan keluarga, pendidikan nonformal yang dijalankan BKMT menjadi ruang bagi perempuan untuk memperdalam ilmu agama, membangun karakter Islami, serta meningkatkan perannya dalam keluarga dan masyarakat. BKMT juga menjadi wadah komunikasi dan pembinaan bagi berbagai majelis taklim yang tersebar di Indonesia, khususnya bagi kaum perempuan.
Dr. Evanirosa juga menjelaskan bahwa di Aceh, BKMT telah berkembang di berbagai kabupaten dan kota dengan kegiatan yang mencakup pengajian rutin, kajian Al-Qur'an, fiqih perempuan, pendidikan keluarga, pembinaan akhlak, pelatihan dakwah, hingga kegiatan sosial. Berbagai program tersebut berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan keagamaan, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta memperkuat ketahanan keluarga dan masyarakat. Selain itu, dipaparkan pula berbagai tantangan BKMT di era digital, seperti regenerasi kader, peningkatan kualitas sumber daya manusia, rendahnya literasi digital, dan perubahan sosial. Untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan inovasi melalui digitalisasi dakwah, penguatan literasi digital, pelatihan muballighah, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi dan berbagai lembaga.
Selain itu, Rahmah Nurfitriani, M.Pd.I menyampaikan materi berjudul "Peran Guru PPG dalam Mengoptimalisasi Kemampuan Membaca Siswa Disleksia di SDN 3 Tripe Jaya, Aceh." Sementara Muhammad Almi Hidayat, M.Pd. mempresentasikan materi bertajuk "Rumah Inklusi: Pusat Pengembangan Bakat dan Kreativitas Anak Berkebutuhan Khusus."

Keduanya merupakan dosen Prodi PGMI IAIN Takengon yang sedang menempuh pendidikan lanjutan dimana Rahmah Nurfitriani mengambil program doktor pada Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Muhammad Almi Hidayat pada program doktor Pendidikan Dasar Universitas Negeri Malang.
Selain menjalani studi, keduanya juga aktif sebagai volunteer di Rumah Inklusi yang mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus dalam mengembangkan bakat dan kreativitas agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, produktif, dan mampu berkontribusi di masyarakat.
Sebagai bentuk penguatan kerja sama dan persahabatan, Rahmah Nurfitriani dan Muhammad Almi Hidayat turut menyerahkan cendera mata kepada masyarakat Kampung Bharu, Malaysia. Rahmah Nurfitrian menyampaikan bahwa salah satu cendera mata yang diberikan berupa kaus hasil karya anak-anak berkebutuhan khusus binaan Rumah Inklusi. Produk tersebut menjadi simbol kreativitas sekaligus bukti bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki potensi besar untuk menghasilkan karya yang bernilai apabila memperoleh pendampingan dan kesempatan yang tepat.

Melalui keikutsertaan dalam International Community Engagement Program ini, para dosen IAIN Takengon turut memperkenalkan berbagai praktik baik dalam pendidikan Islam, pendidikan perempuan, serta pendidikan inklusif di tingkat internasional. Kegiatan ini diharapkan semakin mempererat kerja sama antara akademisi Indonesia dan Malaysia dalam bidang pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan program-program pemberdayaan berbasis komunitas.