BKPI IAIN Takengon Gelar Seminar Pendidikan “Smart Learning with AI”, Bekali Mahasiswa Hadapi Era Digita
Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon menyelenggarakan Seminar Pendidikan bertajuk “Smart Learning with AI: Memaksimalkan Potensi Diri di Era Digital” pada Jumat (19/06/2026) di Aula IAIN Takengon. Kegiatan ini menghadirkan Kukuh Pamuji, M.Lit., sebagai narasumber utama.

Ketua Program Studi BKPI, Husrin Konadi, M.Kons., dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar ini merupakan kegiatan ketiga yang diselenggarakan oleh BKPI dengan tujuan memperluas wawasan mahasiswa terkait pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

“Melalui kegiatan ini kami berharap peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana memanfaatkan AI secara bijak di era digital. AI ibarat pisau bermata dua, jika tidak digunakan dengan pertimbangan yang tepat maka dapat menjerumuskan penggunanya. Namun apabila dimanfaatkan secara cerdas, AI dapat menjadi sarana yang mendukung dan menyelaraskan diri dengan perkembangan digitalisasi yang semakin pesat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan rasa syukur karena seminar yang sebelumnya sempat tertunda akibat situasi bencana akhirnya dapat terlaksana dengan baik. Menurutnya, kegiatan ini diharapkan menjadi wadah pembelajaran yang bermanfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat akademik secara luas.

Dalam pemaparannya, Kukuh Pamuji, M.Lit. menjelaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) merupakan cabang ilmu komputer yang mengajarkan mesin untuk meniru perilaku cerdas manusia. Sistem AI tidak bekerja secara statis, melainkan mampu belajar dan beradaptasi melalui proses pemrograman dan pengolahan data.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan AI saat ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu Machine Learning (ML) yang memungkinkan sistem belajar secara mandiri dari data tanpa pemrograman eksplisit, Large Language Models (LLMs) yang dirancang untuk memahami dan memprediksi bahasa manusia, serta Generative AI (Gen AI) yang mampu menciptakan berbagai konten baru secara unik dan kreatif.

Menurutnya, prinsip utama dalam pemanfaatan AI adalah bahwa teknologi tersebut hadir untuk membantu, bukan menggantikan manusia. Dalam dunia pendidikan, AI dapat mempercepat dan mempermudah proses pembelajaran, namun tidak boleh menggantikan proses berpikir kritis, analisis, refleksi, maupun tanggung jawab akademik.
“AI boleh menjadi asisten, tetapi manusia tetap harus menjadi penulis, peneliti, dan pengambil keputusan,” tegasnya.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan konsep Prompt Engineering atau seni berkomunikasi dengan AI melalui formula PARTS, yaitu Persona, Aim, Recipients, Tone, dan Structure. Formula ini membantu pengguna menghasilkan keluaran AI yang lebih tepat, terarah, dan sesuai kebutuhan.
Kukuh juga mengingatkan pentingnya penggunaan AI secara aman dan bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa AI terkadang dapat menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan tetapi mengandung kesalahan fakta, logika yang keliru, maupun kutipan yang tidak valid. Oleh karena itu, setiap informasi yang dihasilkan AI perlu dievaluasi secara kritis menggunakan kerangka AAA, yaitu Accurate, Appropriate, dan Aligned.

Melalui seminar ini, BKPI IAIN Takengon berharap mahasiswa tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi AI secara efektif, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan etika digital yang kuat sehingga dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab.
