Bedah Buku "Aspek Manusia dalam Bencana di Aceh", IAIN Takengon dan Dinas Perpustakaan Perkuat Literasi Kebencanaan

Bedah Buku "Aspek Manusia dalam Bencana di Aceh", IAIN Takengon dan Dinas Perpustakaan Perkuat Literasi Kebencanaan

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon berkolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Aceh Tengah menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku "Aspek Manusia dalam Bencana" di Aceh pada Rabu (17/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Perpustakaan dan Arsip Aceh Tengah tersebut menghadirkan sejumlah akademisi, peneliti, pegiat literasi, dan penulis yang turut berkontribusi dalam pengembangan literasi kebencanaan di Aceh.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini, Ahmadi Jayaputra dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Aceh Tengah Zulfan Diara Gayo, S.T., Pegiat Literasi Dr. Johansyah, M.A., Dosen IAIN Takengon Dr. Makmur Jaya, M.A., serta Mahbud Fauzi.

Peneliti Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa dan Konektivitas (PRKSDK) BRIN, Ahmadi Jayaputra, menjelaskan bahwa manusia dan bencana merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 41 dan Al-Baqarah ayat 155 yang menjelaskan bahwa berbagai ujian dan bencana menjadi bagian dari perjalanan kehidupan manusia.

Menurutnya, ketangguhan menghadapi bencana harus dibangun melalui penguatan iman, kepedulian sosial, dan tindakan nyata dalam membantu sesama. Ia menekankan pentingnya empati terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

"Kita tidak boleh diam ketika bencana terjadi. Empati harus diwujudkan dalam aksi nyata. Buku ini merupakan sumbangsih bagi masyarakat Aceh agar kita dapat belajar dari berbagai pengalaman dan semakin tangguh menghadapi bencana," jelasnya.

Dalam sesi berikutnya, Dr. Makmur Jaya, M.A., mengulas pentingnya komunikasi kebencanaan berbasis kearifan lokal masyarakat Gayo. Ia menyebut masyarakat Aceh telah ditempa oleh berbagai bencana, mulai dari tsunami, gempa bumi, hingga banjir dan longsor.

Menurutnya, nilai-nilai lokal yang diwariskan masyarakat Gayo mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan alam dan menjaga lingkungan. Oleh karena itu, kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah menjadi bagian penting dari upaya mitigasi bencana.

Sementara itu, Mahbud Fauzi membagikan pengalamannya sebagai penyintas bencana sekaligus penulis. Ia menyoroti pentingnya membaca, menulis, dan merefleksikan pengalaman hidup sebagai bagian dari upaya membangun literasi masyarakat.

"Rajin membaca, rajin mengamati, kemudian menuangkannya dalam tulisan. Kita akan dikenang melalui karya dan tulisan yang kita hasilkan," ungkapnya.

Pegiat Literasi, Dr. Johansyah, M.A., memberikan apresiasi atas terbitnya buku yang ditulis oleh 17 penulis tersebut. Menurutnya, buku ini merupakan bentuk kepedulian para penulis dalam memotret berbagai fenomena kebencanaan yang terjadi di Aceh dari berbagai perspektif.

Ia menjelaskan bahwa buku tersebut terdiri atas empat bagian utama yang mengulas hubungan manusia dan bencana, filosofi hidup masyarakat Aceh, komunikasi kebencanaan, hingga kajian keislaman tentang manusia dalam menghadapi bencana.

"Di tengah berbagai peristiwa bencana yang terjadi, para penulis menunjukkan kepedulian mereka melalui karya ilmiah. Buku ini menghadirkan banyak perspektif yang memperkaya pemahaman kita tentang kebencanaan di Aceh," katanya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Aceh Tengah, Zulfan Diara Gayo, S.T., menyampaikan apresiasinya atas kehadiran para akademisi dan peneliti dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Aceh Tengah merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi sehingga diperlukan upaya peningkatan literasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

Kegiatan bedah buku ini menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, peneliti, dan masyarakat dalam memperkuat budaya literasi sekaligus meningkatkan kesadaran kebencanaan.

Melalui diskusi ini, para peserta diajak memahami bahwa bencana tidak hanya dipandang sebagai peristiwa alam semata, tetapi juga sebagai momentum untuk membangun solidaritas, ketangguhan, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Read more

Empat Dosen IAIN Takengon Raih Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 untuk Studi Doktor

Empat Dosen IAIN Takengon Raih Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 untuk Studi Doktor

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon. Sebanyak empat dosen IAIN Takengon berhasil lolos sebagai penerima Beasiswa Unggulan Keagamaan (BUK) Program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Tahun 2026, program beasiswa hasil kolaborasi Kementerian Agama Republik Indonesia bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan pendidikan jenjang

By Humas IAIN Takengon