Pembelajaran PAI dengan Kurikulum Merdeka di SMAN 15 Takengon, Lebih Paham, Lebih Nyata, dan Lebih Menyenangkan
Halo Semuanya SMAN 15 Takengon!
Pernah nggak sih kalian merasa pelajaran agama itu kadang cuma teori saja? Nah, sekarang lewat Kurikulum Merdeka, pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah kita dibuat lebih nyata, lebih mudah dipahami, dan tentunya lebih menyenangkan.
Dalam Kurikulum Merdeka, kita tidak lagi dituntut untuk mempelajari semua materi sekaligus. Yang penting sekarang adalah memahami inti dari materi tersebut. Jadi walaupun materi sedikit, tapi kalau kita benar-benar paham, itu sudah sangat bagus.
Contohnya saat bulan Ramadhan. Biasanya sudah ada materi khusus, tapi di SMAN 15 Takengon, materi itu tidak diajarkan secara terpisah. Guru akan menggabungkannya dengan pelajaran lain. Jadi siswa bisa belajar agama sekaligus memahami kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Ini membuat pembelajaran jadi lebih bermakna.
Tapi kita juga tidak boleh asal ambil materi dari internet atau dari sekolah lain. Misalnya dari Jogja, belum tentu cocok dengan kondisi kita di Takengon. Jadi guru akan memilih dan menyesuaikan materi tersebut agar sesuai dengan keadaan siswa. Yang penting bukan ikut-ikutan, tapi benar-benar paham.
Dalam pembelajaran PAI di SMAN 15 Takengon, siswa tidak hanya belajar teori, tapi siswa juga harus praktik. Misalnya membaca Al-Qur’an, tidak cukup hanya tahu, tapi harus benar bacaannya. Kalau belum benar, akan diulang sampai bisa. Bahkan kadang difokuskan ke satu siswa dulu sampai benar-benar paham, baru lanjut ke yang lain. Jadi belajarnya bertahap dan tidak terburu-buru.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui Intrakurikuler, Ekstrakurikuler dan penguatan profil pelajar Pancasila. Di SMAN 15 Takengon juga menerapkan untuk mengetahui peningkatan Profil Pelajar Pancasila tersebut melalui Program 5T (Tahsin, Tahfiz, Taqrir, dan Tathbiq) dan dimensi-dimensi profil pelajar Pancasila muncul mulai dari beriman dan bertaqwa, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong-royong dan kreatif.
Kurikulum Merdeka juga memberi kebebasan kepada guru untuk memilih materi yang penting. Tidak harus semua materi diselesaikan sekaligus. Yang penting materi tersebut tuntas dan dipahami. Karena sebenarnya, beberapa materi sudah siswa lakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti praktik ibadah.
Selain itu, suasana belajar juga dibuat lebih menyenangkan. Guru berusaha membuat siswa tetap semangat, tidak tegang, dan nyaman di kelas. Senyum, semangat, dan cara mengajar yang santai membuat siswa lebih mudah menerima pelajaran. Karena kalau siswa senang, belajar jadi tidak terasa berat.
Guru juga sangat memperhatikan hubungan dengan siswa. Karena kalau siswa merasa dekat dengan guru, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran. Itulah kenapa penting untuk saling menghargai dan membangun hubungan yang baik di kelas.
Untuk materi yang biasanya dianggap sulit seperti sejarah Islam (SKI), sekarang dibuat lebih menarik. Salah satunya dengan membuat karya ilmiah sederhana. Siswa diminta untuk membaca, memahami, lalu menulis dalam bentuk karya. Setelah itu, siswa harus mempresentasikan di depan kelas.
Dari kegiatan ini, siswa belajar banyak hal. Bukan hanya memahami materi, tapi juga melatih keberanian dan rasa percaya diri. Banyak siswa yang awalnya biasa saja, tapi setelah sering presentasi, jadi lebih berani dan berkembang.
Dalam Kurikulum Merdeka di SMAN 15 Takengon, juga tidak ada sistem remedial seperti dulu. Kenapa? Karena pembelajaran sudah dibuat agar siswa paham dari awal. Kalau belum paham, guru akan langsung membantu dengan cara yang berbeda. Jadi kita tidak dibiarkan tertinggal.
Pengulangan materi tetap ada, tapi dilakukan dengan cara yang lebih santai dan tidak membosankan. Bisa lewat cerita, diskusi, atau contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, siswa lebih mudah mengingat dan memahami.
Kurikulum ini juga berkembang setelah pengalaman saat pandemi COVID-19. Dulu pembelajaran kurang efektif, jadi sekarang diperbaiki agar lebih fleksibel dan bisa menyesuaikan dengan kondisi apapun.
Siswa dituntut untuk aktif. Jangan hanya diam di kelas. Kalau belum paham, berani bertanya. Kalau diberi tugas, kerjakan dengan sungguh-sungguh. Karena Kurikulum Merdeka memberi kita kesempatan untuk berkembang lebih baik.
Guru juga terus belajar dan berusaha memberikan yang terbaik.
Kesimpulannya, pembelajaran PAI dengan Kurikulum Merdeka di SMAN 15 Takengon membuat siswa belajar dengan cara yang lebih santai, tapi tetap fokus pada pemahaman. Siswa tidak hanya belajar teori, tapi juga praktik dan kehidupan nyata.
Ayo ……., kita manfaatkan sistem ini dengan baik. Tetap semangat belajar, aktif di kelas, dan terus berkembang menjadi lebih baik.
SMAN 15 Takengon, belajar lebih bermakna, masa depan lebih cerah !
Kontributor Penulis : Rafiki Adli (Mahasiswa Prodi PAI)