INTEGRASI PEMBELAJARAN PAI DALAM PENGUATAN KARAKTER SISWA DI ERA KURIKULUM MERDEKA
Dalam dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI), keteladanan Rasulullah SAW menjadi dasar penting dalam membentuk karakter peserta didik. Keteladanan tersebut tidak hanya dipahami sebagai konsep teoritis, tetapi juga menjadi pedoman praktis dalam proses pembelajaran di sekolah. Hal ini juga menjadi landasan bagi SMA Negeri 15 Takengon dalam mengembangkan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembinaan akhlak dan kepribadian siswa.
SMA Negeri 15 Takengon saat ini telah menerapkan Kurikulum Merdeka yang memberikan keleluasaan bagi satuan pendidikan untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik. Dalam pelaksanaannya, kurikulum ini dipadukan dengan nilai-nilai keislaman serta kearifan lokal masyarakat Gayo, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Upaya penguatan karakter di sekolah ini tercermin dalam visi pendidikan yang menekankan terbentuknya peserta didik yang beriman, berakhlak mulia, beretika, dan berdaya saing. Visi tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui berbagai strategi pembelajaran yang terintegrasi antara aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Dalam pelaksanaannya, Pendidikan Agama Islam (PAI) diperkuat melalui berbagai mata pelajaran pendukung seperti Akidah Akhlak, Al-Qur’an Hadis, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), serta Bahasa Arab. Integrasi ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman keagamaan siswa secara komprehensif sekaligus menyeimbangkan pendidikan umum dan pendidikan agama di sekolah.
Salah satu program yang menonjol adalah kegiatan keagamaan berbasis pembiasaan, seperti tahsin dan tahfidz Al-Qur’an. Program ini dimulai dari pembinaan bacaan Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan hafalan, pengulangan (takrir), hingga pemahaman makna melalui kajian tafsir. Melalui proses yang berjenjang ini, siswa tidak hanya mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga diharapkan dapat mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, penguatan karakter siswa juga dilakukan melalui internalisasi nilai kearifan lokal Gayo, yaitu Sumang Gayo. Nilai ini menjadi pedoman etika dalam pergaulan dan kehidupan sosial siswa di lingkungan sekolah. Dengan mengintegrasikan nilai tersebut, siswa diarahkan untuk memiliki sikap sopan santun, menjaga batasan moral, serta menghormati norma agama dan budaya yang berlaku di masyarakat.
Kegiatan keagamaan lainnya juga terus diperkuat melalui bimbingan Islam harian, komunitas dakwah siswa, serta program tadarus Al-Qur’an, terutama pada bulan Ramadan. Seluruh kegiatan ini menjadi bagian dari pembiasaan yang berkelanjutan untuk membentuk karakter religius, disiplin, dan bertanggung jawab pada diri peserta didik.

Dengan berbagai upaya tersebut, SMA Negeri 15 Takengon menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam dapat berjalan secara kontekstual melalui integrasi nilai-nilai agama dan budaya lokal. Pendekatan ini menjadi salah satu strategi penting dalam menjawab tantangan pendidikan di era modern yang semakin kompleks.
Pada akhirnya, penerapan kurikulum ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat dalam iman, berakhlak mulia, serta memiliki identitas budaya yang kokoh sebagai generasi penerus bangsa.
( Kontributor Penulis : Khairu Rozi - Mahasiswa Pendidikan Agama Islam IAIN Takengon )