IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BERBASIS KEARIFAN LOKAL SUMANG GAYO LITERASI (SUGALI) DALAM PEMBELAJARAN PAI

IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BERBASIS KEARIFAN LOKAL SUMANG GAYO LITERASI (SUGALI) DALAM PEMBELAJARAN PAI

Pendidikan saat ini tidak bisa hanya dianggap sebagai transfer pengetahuan atau sekadar mengejar nilai akademis. Lebih dari itu, pendidikan yang baik harus mampu membentuk karakter, kepribadian, dan akhlak yang mulia. Dengan penerapan Kurikulum Merdeka, kita memiliki kebebasan dan fleksibilitas untuk merancang pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan siswa. Salah satu langkah strategis adalah mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam mata pelajaran, terutama Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam tulisan ini, kita akan membahas mendalam tentang implementasi budaya Sumang Gayo Literasi atau SUGALI. Konsep ini bukan hanya teori, tetapi telah terbukti memberikan dampak positif saat diterapkan dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, konsep ini patut dicontoh dan diterapkan secara luas di sekolah-sekolah lain.

Untuk memahami dan menerapkannya dengan benar, kita perlu menggali makna dan filosofi dari Sumang itu sendiri. Bagi masyarakat Gayo, Sumang bukan sekadar pantangan kuno atau hal-hal mistis. Sumang adalah sistem etika, moral, dan pedoman hidup yang luhur dan bijaksana. Secara bahasa, Sumang diartikan sebagai segala sesuatu yang "ling, gere jeroh, gere kona, gere jujur," yang berarti buruk, tidak baik, tidak benar, dan tidak jujur. Konsep ini berfungsi sebagai garis batas yang jelas antara perilaku terpuji dan tercela.

Nilai-nilai dalam Sumang sangat lengkap karena mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari yang tampak hingga yang tersembunyi. Ada empat pilar utama yang menjadi dasar. Pertama adalah Sumang Perceraken, yang berkaitan dengan etika berbicara. Dalam budaya ini, kita diajarkan untuk menjaga lisan. Berbohong, memfitnah, berkata kasar, atau menyebarkan berita tidak benar sangat dilarang. Orang Gayo punya pepatah bahwa lidah lebih tajam daripada pedang karena bisa menyakiti hati orang lain dan merusak hubungan persaudaraan. Jadi, Sumang Perceraken mengajarkan kita untuk selalu berkata jujur, sopan, dan bermanfaat.

Kedua adalah Sumang Pelangkahen, yang mengatur perilaku, perbuatan, dan tata krama. Ini mengajarkan cara bersikap dalam pergaulan, seperti cara duduk yang sopan di hadapan orang tua atau guru, cara berjalan, cara menyapa, dan cara menghormati yang lebih tua dan sesama. Intinya adalah menjaga adab agar tidak melanggar batas kesopanan yang berlaku.

Ketiga adalah Sumang Pengunulen, yang berarti larangan keras untuk mengambil atau menguasai hak milik orang lain. Nilai ini sangat berkaitan dengan kejujuran dan keadilan. Kita dilarang mencuri, menipu, berbuat curang, atau menguasai harta orang lain dengan cara yang salah. Ini mengajarkan bahwa apa yang kita miliki harus diperoleh dengan usaha yang halal dan benar, serta kita harus menghargai milik orang lain.

Keempat, yang paling mendalam, adalah Sumang Penengonen, yang mengatur hati, niat, dan pandangan. Ini adalah tingkat etika tertinggi karena menyangkut isi hati. Kita dilarang iri, dengki, sombong, atau berniat jahat kepada orang lain. Juga dilarang memandang hal-hal haram atau yang merusak kesucian hati. Jadi, Sumang ini mengajarkan kita untuk menjaga pandangan dan niat agar selalu bersih dan baik.

Dari keempat nilai tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa Sumang adalah pendidikan karakter yang utuh. Ia mengatur apa yang kita ucapkan, perbuat, dan pikirkan serta rasakan. Tujuannya agar kehidupan kita selalu berada di jalur yang benar, aman, damai, dan sejahtera, sesuai dengan pesan leluhur: "Bekunul kerajinan, bekesah kearifan, beruk kerapat, berenang kerenyah," yang artinya memiliki sesuatu dengan usaha, memegang prinsip bijak, berjalan hati-hati, dan hidup dalam keselamatan.

Konsep ini sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran PAI karena nilai-nilai Sumang selaras dan mendukung ajaran Islam. Prinsip kejujuran dalam Sumang Perceraken sesuai dengan perintah Allah agar kita termasuk golongan orang-orang yang benar. Tata krama dalam Sumang Pelangkahen adalah wujud nyata dari adab dan ihsan yang diajarkan Nabi Muhammad. Larangan mengambil hak orang lain dalam Sumang Pengunulen sejalan dengan hukum syariat yang melarang segala bentuk penipuan dan kezaliman. Begitu pula dengan Sumang Penengonen yang mengajarkan menjaga hati, sesuai dengan sabda Nabi bahwa hati adalah pangkal segala amal. Mempelajari budaya dan kearifan lokal berarti memperdalam pemahaman tentang agama; keduanya saling mengisi dan memperkuat.

Dalam pelaksanaannya, integrasi nilai SUGALI terbukti efektif, bahkan menghadapi tantangan modern saat ini. Sebagai contoh, di tengah maraknya teknologi dan handphone di kalangan siswa, nilai Sumang menjadi pedoman yang bermanfaat. Siswa diajarkan bahwa menggunakan HP untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, mengakses konten buruk, menyebar berita bohong, atau menyakiti orang lain lewat media sosial melanggar Sumang Perceraken dan Sumang Penengonen. Dengan pemahaman ini, siswa menjadi lebih sadar dan bijak dalam memanfaatkan teknologi, mengetahui mana yang boleh dan tidak, sehingga alat komunikasi digunakan untuk belajar dan hal positif, bukan merusak diri sendiri atau orang lain.

Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran Al-Qur'an, pendekatan ini didukung oleh metode 5 T yang sangat lengkap. Metode ini mencakup Tartil, Tajwid, Tahsin, Tahfidz, dan Tafakkur atau Amal. Dengan metode ini, siswa tidak hanya belajar membaca Al-Qur'an, tetapi perlu membaca dengan tartil, memahami dan menerapkan hukum bacaan atau tajwid, memperindah suara, berusaha menghafal ayat-ayat pilihan, dan merenungi isi kandungan Al-Qur'an serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kombinasi antara nilai budaya Sumang dengan metode 5 T menciptakan suasana belajar yang religius, menyenangkan, dan disiplin positif.

Melihat manfaat dan keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka berbasis SUGALI, sudah saatnya sekolah-sekolah lain di seluruh wilayah budaya Gayo mulai menerapkan hal yang sama. Jangan ragu mencobanya karena model ini telah terbukti membuat pembelajaran PAI lebih hidup, mudah dipahami, dan sangat bermakna bagi siswa. Saat materi disampaikan dengan menggunakan kearifan lokal, siswa merasa lebih dekat, bangga dengan identitasnya, dan nilai-nilai tersebut lebih mudah meresap ke dalam hati serta menjadi kebiasaan baik.

Ini juga cara terbaik untuk melestarikan warisan budaya agar tidak hilang, serta mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat imannya, mulia akhlaknya, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi. Tentu dalam perjalanan mungkin ada kendala, namun selama ada kemauan dari guru dan dukungan semua pihak, semuanya bisa terlaksana dengan baik. Mari kita bersama-sama menerapkan konsep SUGALI ini untuk menciptakan generasi penerus yang mampu menjaga lisan, perbuatan, hak orang lain, dan kesucian hati, sehingga menjadi manusia yang berguna bagi agama, masyarakat, dan bangsa.

Kontributor : Apriza Aramiko (Mahasiswa Pendidikan Agama Islam IAIN TAKENGON)

Read more

DWP IAIN Takengon Gelar Pertemuan Rutin, Rektor Tekankan Pentingnya Syukur dan Nilai Agama dalam Kehidupan

DWP IAIN Takengon Gelar Pertemuan Rutin, Rektor Tekankan Pentingnya Syukur dan Nilai Agama dalam Kehidupan

Dharma Wanita Persatuan (DWP) IAIN Takengon menggelar pertemuan rutin yang dirangkaikan dengan pengajian dan tausiah pada Senin (15/6/2026). Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperdalam nilai-nilai keagamaan di lingkungan keluarga besar IAIN Takengon. Pada kesempatan tersebut, Rektor IAIN Takengon menyampaikan

By Humas IAIN Takengon
Perkuat Tata Kelola Keuangan Negara, KPPN Takengon Lakukan Monitoring, Evaluasi, dan Pendampingan di IAIN Takengon

Perkuat Tata Kelola Keuangan Negara, KPPN Takengon Lakukan Monitoring, Evaluasi, dan Pendampingan di IAIN Takengon

Dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan negara serta memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang perbendaharaan, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Takengon melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pengelolaan Anggaran Triwulan II Tahun Anggaran berjalan di lingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon. Kegiatan yang berlangsung di kampus IAIN Takengon

By Humas IAIN Takengon