Fleksibilitas serta konsep fase E dan F pada pembelajaran PAI dalam kurikulum Merdeka di SMA Negeri 15 Takengon Binaan Nenggeri Antara

Fleksibilitas serta konsep fase E dan F pada pembelajaran PAI dalam kurikulum Merdeka di SMA Negeri 15 Takengon Binaan Nenggeri Antara

Fleksibilitas dalam Kurikulum Merdeka membuka ruang kolaborasi yang sangat luas, salah satunya dengan mengintegrasikan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) ke dalam tema-tema lintas disiplin. Dalam praktiknya, nilai-nilai spiritual dan akhlak dalam PAI tidak lagi diajarkan secara terisolasi di dalam kelas, melainkan dilebur ke dalam projek atau materi pelajaran lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna.

Mengidentifikasi bagaimana sekolah menerapkan fleksibilitas dalam memilih metode, materi, dan perangkat ajar yang sesuai dengan karakteristik siswa. Dimana Fokus Analisis (Isi Utama) Fleksibilitas Waktu dan Materi (Capaian Pembelajaran), Guru tidak lagi terburu-buru mengejar target materi mingguan yang kaku. Pembelajaran difokuskan pada materi esensial agar pemahaman lebih mendalam serta bagaimana guru mengatur alur tujuan pembelajaran (ATP) agar sesuai dengan kecepatan belajar siswa di kelas. Pembelajaran Berdiferensiasi (Kebutuhan Siswa) seperti adanya pengelompokan atau perlakuan berbeda berdasarkan minat dan gaya belajar siswa (visual, auditori, atau kinestetik). Sejauh mana guru mampu memberikan pilihan tugas atau cara penyampaian materi yang beragam di dalam satu kelas yang sama.

Kolaborasi ini memberikan keleluasaan bagi siswa untuk memahami bahwa agama bukan sekadar hafalan dalil, melainkan dasar perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), materi PAI tentang gotong royong dan kejujuran dapat dipraktikkan langsung saat siswa bekerja kelompok atau mengelola wirausaha sekolah. Dengan fleksibilitas ini, PAI berperan sebagai kompas moral yang mewarnai seluruh proses pembelajaran, sehingga siswa tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki kedalaman karakter yang selaras dengan nilai-nilai religius.

Kemudian flesibilitas ini berhubungan dan membicaran tentang fase-fase yang ada di dalam kurikulum Merdeka yaitu terbagi dari 2 fase pada Konsep Fase E dan Fase F dalam Kurikulum Merdeka adalah manifestasi nyata dari fleksibilitas pembelajaran. Hubungan antara fase-fase tersebut dengan fleksibilitas dapat dijelaskan dalam beberapa poin utama berikut:1. Fleksibilitas dalam Kecepatan Belajar Pembelajaran berbasis fase (bukan lagi per tahun ajaran yang kaku) memberikan fleksibilitas bagi guru u    ntuk mengatur alur tujuan pembelajaran. Jika di Fase E (Kelas 10) siswa belum menguasai kompetensi dasar, guru memiliki keleluasaan waktu untuk memperdalam materi tersebut tanpa terburu-buru harus pindah ke materi kelas 11. Fleksibilitas ini memastikan siswa mencapai ketuntasan kompetensi sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing (teaching at the right level). Fleksibilitas dalam Memilih (Student Agency)Hubungan paling erat terlihat pada transisi dari Fase E ke Fase F (Kelas 11 & 12). Di sini, fleksibilitas diwujudkan dalam bentuk "Menu Mata Pelajaran". Siswa tidak lagi dipaksa masuk ke kotak IPA atau IPS secara permanen, melainkan diberikan kebebasan untuk mengombinasikan mata pelajaran sesuai minatnya.

Di Fase E, sekolah bisa lebih fleksibel mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam mata pelajaran umum. Sementara di Fase F, sekolah memiliki fleksibilitas untuk menentukan mata pelajaran pilihan apa saja yang akan dibuka, disesuaikan dengan ketersediaan guru, sarana prasarana, dan kebutuhan siswa di lingkungan sekolah tersebut.4. Fleksibilitas dalam Pendalaman Materi EsensialKarena capaian pembelajaran disusun per fase (2 tahun untuk Fase F), guru memiliki fleksibilitas untuk menentukan mana materi yang perlu dibahas secara mendalam dan mana yang cukup sebagai pengantar. Hal ini mencegah terjadinya tumpukan materi yang terlalu padat, sehingga proses belajar menjadi lebih rileks namun berbobot.

Kontributor Penulis : Cahaya Riski (Mahasiswa PAI)

Read more

DWP IAIN Takengon Gelar Pertemuan Rutin, Rektor Tekankan Pentingnya Syukur dan Nilai Agama dalam Kehidupan

DWP IAIN Takengon Gelar Pertemuan Rutin, Rektor Tekankan Pentingnya Syukur dan Nilai Agama dalam Kehidupan

Dharma Wanita Persatuan (DWP) IAIN Takengon menggelar pertemuan rutin yang dirangkaikan dengan pengajian dan tausiah pada Senin (15/6/2026). Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperdalam nilai-nilai keagamaan di lingkungan keluarga besar IAIN Takengon. Pada kesempatan tersebut, Rektor IAIN Takengon menyampaikan

By Humas IAIN Takengon
Perkuat Tata Kelola Keuangan Negara, KPPN Takengon Lakukan Monitoring, Evaluasi, dan Pendampingan di IAIN Takengon

Perkuat Tata Kelola Keuangan Negara, KPPN Takengon Lakukan Monitoring, Evaluasi, dan Pendampingan di IAIN Takengon

Dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan negara serta memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang perbendaharaan, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Takengon melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pengelolaan Anggaran Triwulan II Tahun Anggaran berjalan di lingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon. Kegiatan yang berlangsung di kampus IAIN Takengon

By Humas IAIN Takengon